Ads

LightBlog

STIPRAM

Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Ambarukmo Yogyakarta

Desa Wisata Gamplong

Uniknya kerajinan pembuatan kain dengan ATBM

Situs Ratu Boko

Menjelajah masa lalu kejayaan Kerajaan Mataram Kuno

Vulcano Tour Merapi

Pacu Adrenalinmu di Lereng Gunung Merapi

Candi Prambanan

Dari Mantra Turun ke Candi. Setinggi itukah cinta bertahta?

Minggu, 03 Desember 2017

Museum Affandi


Museum Affandi – Yogyakarta memang dikenal dengan gudangnya destinasi wiata. Bukan hanya wisata alam yang ditawarkan, tapi juga ada beberapa tempat bersejarah lainya yang bisa dikunjungi ada. Salah satunya adalah musum Affandi. Alamat Museum Affandi berada di Jalan Raya Yogyakarta-Solo nomor 167 atau berada di Jalan Solo Km 5,1. Depan kampus UIN Sunan Kalijaga atau 2 meter setelah pos polisi depan KFC.

Letak Museum Affandi sendiri leih tepatnya berada di tepi barat Sungai Gajah Wong. Sungai yang masih menjadi pemukiman kumuh warga Yogyakarta. Entah masihkah ada ulur tangan pemerintah Yogyakarta untuk membantu warga yang berada di kawasan sungai Gajah Wong ini.
Ya, tidak sulit menemukan lokasi Museum Affandi ini karena letaknya yang berada di kanan jalan raya Jo

gja-Solo ini. Dengan Anda mengunjungi Museum Affandi mak Anda berasa diajak untuk menjejaki seluruh bagian berarti dari kehidupan Affandi.
Sejarah Museum Affandi Jogja ini berawal dari nama pelukisnya. Dahulu tempat ini adalah sebuah Galeri I yang dirancang sendiri oleh Affandi dengan biaya hasil penjualan lukisan-lukisannya. Pembanguna Galeri I ini selesai pada tahun 1962 dan diresmikan pada tahun 1974 oleh Profesor Ida Bagus Mantra, Direktur Kebudayaan Umum saat itu.

Adapun pembangunan Galeri II dilakukan dengan bantuan Pemerintah Indonesia melalui kunjungan Presiden Soeharto. Pembangunanpun dimulai pada tahun 1987 dan diresmikan pada 9 Juni 1998 oleh Prof. Dr. Fuad Hasan yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Galeri III dibangun oleh Yayasan Affandi pada tahun 1999, pada Mei tahun 2000 dan diresmikan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Sedangkan yang terakhir, Galeri IV dibangun pada tahun 2002 guna memamerkan lukisan-lukisan keluarga Affandi.

Harga Tiket Museum Affandi Yogyakarta dan Jadwal Buka
Biaya Masuk Museum Affandi
    Rp. 10.000 (anak)
    Rp. 20.000 (dewasa)
    Rp. 50.000 (WNA)
    Rp. 20.000 jika Anda masuk dan membawa kamera DSLR dan sejenisnya
    Rp. 10.000 jika Anda masuk dan membawa kamera handphone

Jadwal Buka Museum Affandi
Buka Senin – Sabtu pukul 09:00 – 16:00 WIB. Dan tutup sat hari Minggu dan tanggal merah.

Museum Affandi Sang Maestro Lukis Indonesia Asal Jogja, di tempat ini Anda bisa melihat karya-karya sang pelukis. Ada banyak karya yang dipajang di museum ini. Karya-karya tersebut berasal dari seluruh inspirasi Affandi saat masih hidup.

Denah Museum Affandi sendiri memiliki 3 macam jenis ruangan. Galeri I, II, dan III. Galeri I sebagai tempat pembelian tiket dan permulaan tur. Galeri ini memuat sejumlah lukisan Affandi dari awal ia berkarya hingga masa akhir hidupnya. Lukisan sketsa dan karya reproduksi ini diletakkan dalam 2 larik atas bawah. Diletakkan memanjang agar memenuhi ruangan yang berbentuk lengkung.

Galeri I ini pula, Anda bisa melihat sejumlah barang berharga semasa hidupnya. Ada mobil Colt Gallan tahun 1976 yang berwarna kuning kehijauan di ujung ruangan. Uniknya mobil tersebut dimodifikasi menyerupai bentuk ikan. Selain mobil ada juga sebuah sepeda onthel kuno yang masih tampak begitu mengkilap. Adapula reproduksi patung karya Affandi berupa potret diri bersama putrinya, Kartika.

Lanjut ke Galeri II, di sini Anda bisa melihat sejumlah lukisan para pelukis. Baik itu pelukis pemula ataupun senior. Semua ada di Galeri II. Galeri yang diresmikan pada tahun 1998 ini terdiri dari dua lantai. Di mana lukisan yang ada bisa Anda lihat dari sudut pandang yang berbeda. Lantai pertama berisi lukisan-lukisan yang sifatnya abstrak. Adapun lantai dua memuat lukisan corak realis.

Terakhir di Galeri III, ada bangunan berbentuk garis melengkug dengan atap membentuk pelepah daun pisang. Galeri III ini adalah gedung serba guna. Di galeri III ini terdiri dari 3 lantai.
Lantai pertama digunakan sebagai ruang pamern sekaligus lokasi Sanggar Gajah Wong. Sanggar Gajah Wong adalah tempat bagi anak-anak untuk mengasah bakat melukis mereka. Lantai kedua sebagai ruang perawatan dan perbaikan lukisan, sementara lantai bawah tanah adalah sebagai tempat menyimpan koleksi lukisan.

Tak berselang jauh dari Galeri III, ada sebuah menara yang bisa Anda gunakan sebagai tempat melihat pemandangan. Dari menara Anda bisa melihat panorama seluruh bagian museum, hiruk pikuk jalan raya di sekitar dan juga sungai Gajah Wong.

Menariknya di tempat ini adalah terdapat cafe Museum Affandi yang terletak di lantai bawah rumah. Rumah tersebut adalah rumah miliki Affandi. Cafe ini disebut engan Kafe Loteng yang menjual berbagai makanan dan minuman bag pengunjung. Jika kafe loteng ada di lantai bawah, maka lantai atas rumah adalah kamar pribadi Affandi.

Sumber : https://www.gudeg.net/direktori/1155/desa-wisata-gamplong-yogyakarta.html

Kunjungi Website STIPRAM

Desa Wisata Gamplong

Desa Wisata Gamplong adalah desa wisata kerajinan tenun yang berada di Padukuhan Gamplong Desa Sumber Rahayu Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Desa wisata yang terletak di sebelah barat Kota Yogyakarta ini cukup menarik untuk disinggahi wisatawan terlebih karena masih adanya industri kerajinan tenun tradisional dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Dengan ATBM, masyarakat perajin Gamplong mampu menghasilkan kain tenun sebagai bahan stagen (kain panjang untuk melilit bagian perut wanita). Selain kerajinan tenun, perajin juga mampu memproduksi kerajinan anyaman untuk suvenir.

Tak hanya terkenal dengan ATBM-nya, Desa Wisata yang teletak di Jl. Raya Wates Yogya Km 14 ini juga terkenal dengan kreativitas warganya yang mampu memanfaatkan eceng gondok, lidi kelapa, mendong, dan akar wangi yang hingga menjadi sejumlah produk istimewa yang mempunyai jual bahkan ekspor. Produk yang dapa mereka hasilkan berupa tas, dompet, aksesori wanita, gorden, tikar, dll.

Di Desa Wisata Gamplong terdapat tak kurang dari 24 perajin yang menggeluti usaha kecil yang umumnya bergerak dalam bidang tenun. Usaha dan kemampuan mereka umumnya didapatkan secara turun temurun dari leluhur mereka.

Berbagai macam kerajinan yang dihasilkan oleh desa Gamplong ini, antara lain :
   1. Kerajinan bahan tenun menghasilkan stagen (ikat pinggang wanita dari kain panjang) dan serbet
  2.   kerajinan anyaman yang berasal dari eceng gondok, lidi kelapa, mendong, dan akar wangi yang menghasilkan berbagai macam kerajinan seperti:  berbagai macam souvenir, pembuatan tas, dompet, asesoris wanita, gorden, tikar, dan lain-lain.

Hasil produksi mereka tak hanya dipasarkan di Yogyakarta saja, tapi juga banyak dipesan oleh pembeli dan pengusaha lain dari Bali dan Jakarta.

Sejumlah wisatawan dan pengusaha dari negeri tetangga Australia juga telah menjadi pelanggan tetap perajin di Gamplong.

Mereka juga menitipkan hasil karya kerajinan ke berbagai macam toko pusat oleh-oleh, toko souvenir dan produsen yang ada di kota

Selain sebagai desa wisata kerajinan, di desa ini juga menyediakan workshop untuk belajar menenun bagi para wisatawan, Pengunjung dapat menikmati proses pembuatan kain tenun, proses membuat anyaman  dan dapat belajar langsung menenun yang akan didampingi oleh ibu-ibu pengrajin tenun.

Di desa ini juga terdapat Gallery yang memajang berbagai macam hasil karya para pengrajin di desa Gamplong ini.
Untuk menuju ke Desa Wisata Gamplong  dari kota Yogyakarta menuju Jalan Raya Wates sampai ke Jalan Wates Km.15,pertigaan Klangon ke Utara .ketemu jembatan rel kereta api belok kiri,ikuti jalan sampai ketemu lapangan ambil jalan yang kiri,lurus saja kurang lebih 300 meter. nanti ada rumah joglo tempat itulah untuk acara workshop dan paguyupan.

Info selengkapnya :
    Desa Gamplong, Sumberrahayu, Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55563,
    Telepon : 08121583657 ( Pak Waludin )
   

Kunjungi Website STIPRAM

Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala


Museum Pusat TNI AU "Dirgantara Mandala" adalah museum yang digagas oleh TNI Angkatan Udara untuk mengabadikan peristiwa bersejarah dalam lingkungan TNI AU, bermarkas di kompleks Pangkalan Udara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Museum ini sebelumnya berada berada di Jalan Tanah Abang Bukit, Jakarta dan diresmikan pada 4 April 1969 oleh Panglima AU Laksamana Roesmin Noerjadin lalu dipindahkan ke Yogyakarta pada 29 Juli 1978.[1]

Alamat Museum, Komplek Pangkalan TNI AU Lanud Adisutjipto, Yogyakarta Telp. 0274 - 484 453, Jam Kunjungan: Senin - Minggu 08.30 - 15.00. Harga tiket masuk : Rp. 4000 / orang
Sejarah Museum
Atas gagasan pimpinan TNI AU, maka didirikanlah Museum Pusat TNI AU “Dirgantara Mandala” sebagai tempat untuk mengabadikan dan mendokumentasikan seluruh kegiatan dan peristiwa bersejarah di lingkungan TNI AU. Museum ini telah diresmikan pada tanggal 4 April 1969 oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Roesmin Noerjadin. Awalnya, museum berada di Jalan Tanah Abang Bukit, Jakarta. Akan tetapi, museum kemudian dipindahkan ke Yogyakarta karena dianggap sebagai tempat penting lahirnya TNI AU dan pusat kegiatan TNI AU. Dengan pertimbangan bahwa koleksi Museum Pusat TNI AU “Dirgantara Mandala”, terutama Alutsista Udara berupa pesawat terbang yang terus berkembang sehingga gedung museum di Kesatrian AKABRI Bagian Udara tidak dapat menampung dan pertimbangan lokasi museum yang sukar dijangkau pengunjung, maka Pimpinan TNI-AU memutuskan untuk memindahkan museum ini lagi.

Pimpinan TNI-AU kemudian menunjuk gedung bekas pabrik gula di Wonocatur Lanud Adisutjipto yang pada masa pendudukan Jepang digunakan sebagai gudang logisitik sebagai Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala. Pada tanggal 17 Desember 1982, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi menandatangani sebuah prasasti. Hal ini diperkuat dengan surat perintah Kepala Staf TNI-AU No.Sprin/05/IV/1984 tanggal 11 April 1984 tentang rehabilitasi gedung ini untuk dipersiapkan sebagai gedung permanen Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala. Dalam perkembangan selanjutnya pada tanggal 29 Juli 1984 Kepala Staf TNI-AU Marsekal TNI Sukardi meresmikan penggunaan gedung yang sudah direnovasi tersebut sebagai gedung Museum Pusat TNI AU “Dirgantara Mandala” dengan luas area museum seluruhnya kurang lebih 4,2 Ha. Luas bangunan seluruhnya yang digunakan 8.765 M2.[2]
Museum ini menyimpan sejumlah foto tokoh-tokoh sejarah serta diorama peristiwa sejarah Angkatan Udara Indonesia. Sejumlah pesawat tempur dan replikanya juga terdapat di museum ini yang kebanyakan berasal dari masa Perang Dunia II dan perjuangan kemerdekaan, diantaranya:

    Pesawat Ki-43 buatan Jepang
    Pesawat PBY-5A (Catalina).
    Replika pesawat WEL-I RI-X (pesawat pertama hasil produksi Indonesia)
    Pesawat A6M5 Zero Sen buatan Jepang.
    Pesawat pembom B-25 Mitchell, B-26 Invader, TU-16 Badger.
    Helikopter Hillier 360 buatan AS.
    Pesawat P-51 Mustang buatan AS.
    Pesawat KY51 Cureng buatan Jepang.
    Replika pesawat Glider Kampret buatan Indonesia.
    Pesawat TS-8 Dies buatan AS.
    Pesawat Lavochkin La-11, Mig-15, MiG-17 dan MiG-21 buatan Russia.
    Rudal SA-75[3]

Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala baru-baru ini mendapat tambahan koleksi berupa Prototype Bom sejumlah 9 buah buatan Dislitbangau yang bekerjasama dengan PT. Pindad dan PT. Sari Bahari. Bom-bom tersebut merupakan bom latih (BLA/BLP) dan bom tajam (BT) yang memiliki daya ledak tinggi (high explosive), sebagai senjata Pesawat Sukhoi Su-30, F-16, F-5, Sky Hawk, Super Tucano dll.[4]

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Pusat_TNI_AU_Dirgantara_Mandala

Kunjungi Website STIPRAM



Museum Gunung Api Merapi

    Museum Gunungapi Merapi merupakan museum bersejarah yang dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan, penyebarluasan informasi aspek kegunungapian khususnya dan kebencanaan geologi lainnya yang bersifat rekreatif-edukatif untuk masyarakat luas dengan tujuan untuk memberikan wawasan dan pemahaman tentang aspek ilmiah, maupun sosial-budaya dan lain-lain yang berkaitan dengan gunungapi dan sumber kebencanaan geologi lainnya. Museum Gunungapi ini diharapkan dapat menjadi solusi alternatif sebagai sarana yang sangat penting dan potensial sebagai pusat layanan informasi kegunungapian dalam upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat, serta sebagai media dalam meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat tentang manfaat dan ancaman bahaya letusan gunungapi serta bencana geologi lainnya.
  
Museum Gunung Api Merapi (MGM), yang digadang menjadi geo-wisata di DIY diharapkan menjadi wahana edukasi konservasi yang berkelanjutan serta pengembangan ilmu kebencanaan gunungapi, gempabumi, dan bencana alam lainnya.
  
Lokasi MGM terletak di kawasan lereng Merapi, tepatnya di Jalan Boyong, Dusun Banteng, Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman.
  
Dengan luas bangunan sekitar 4,470 yang berdiri di atas tanah seluas 3,5 hektar, museum yang ke depan juga akan dilengkapi dengan taman, area parkir, dan plasa ini ingin dikenal masyarakat sebagai ‘Museum Gunungapi Merapi, Merapi Jendela Bumi’.
 

Museum Gunungapi ini dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan, penyebarluasan informasi aspek kegunungapian khususnya dan kebencanaan geologi lainnya yang bersifat rekreatif-edukatif untuk masyarakat luas dengan tujuan untuk memberikan wawasan dan pemahaman tentang aspek ilmiah, maupun sosial-budaya dan lain-lain yang berkaitan dengan gunungapi dan sumber kebencanaan geologi lainnya. Museum Gunungapi ini diharapkan dapat menjadi solusi alternatif sebagai sarana yang sangat penting dan potensial sebagai pusat layanan informasi kegunungapian dalam upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat, serta sebagai media dalam meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat tentang manfaat dan ancaman bahaya letusan gunungapi serta bencana geologi lainnya.

Informasi yang disampaikan di museum gunungapi diantaranya:
1. Informasi ilmiah kegunungapian, kegempaan dan gerakan tanah yang merupakan proses dinamika geologi, dicerminkan diantaranya dalam informasi model pembentukan, mekanisme terbentuknya maupun proses-proses yang menyertainya.

 2, Informasi fenomena gunungapi terbentuk sebagai hasil proses-proses geologi, yang tampil dipermukaan bumi diantaranya berupa bentang alam gunungapi, struktur geologi gunungapi, produk hasil letusan gunungapi, dan produk-produk hasil proses lainnya.

 3. Informasi mitigasi bencana gunungapi, gempabumi, tsunami, gerakan tanah yang ditampilkan dalam bentuk informasi sistem monitoring, penelitian dan pengamatan, sistem peringatan dini, dan upaya mitigasi bencana diantaranya menyangkut sistem penyelamatan masyarakat terhadap ancaman bahaya letusan gunungapi, kegempaan dan gerakan tanah.

4. Informasi sumberdaya gunungapi, sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat, pengembangan infra-struktur dan lainnya.

5. Informasi aspek sosial budaya diantaranya menyangkut kehidupan, budaya/tradisi, mitos dan lainnya yang berkaitan dengan lingkungan dan keberadaan suatu gunungapi.

Tiket
Rp 3.000 (tiket masuk)
Rp 5.000 (tiket film)
Rp 8.000 (masuk + film)
Buka Selasa - Minggu
Pk 08:00 - 15:30 WIB

Sumber : http://mgm.slemankab.go.id/profil-museum-gunungapi-merapi/

Kunjungi Website STIPRAM



Museum Ullen Sentalu

Museum Ullen Sentalu

Siapa nyana, di antara kedamaian dan kesejukan lereng Merapi berdiri sebuah museum yang merupakan museum terbaik Indonesia pilihan wisatawan di website Trip Advisor. Museum Ullen Sentalu, begitulah nama yang terpampang di depan. Terletak di Jalan Boyong, Kaliurang, Museum Ullen Sentalu menyimpan aneka koleksi menawan mengenai budaya Jawa peninggalan Kerajaan Mataram.

Menjejak di Museum Ullen Sentalu wisatawan akan disambut dengan hawa sejuk yang berkisar antara 15 – 25 der4ajat celcius. Suasana hening yang menyatu dengan alam pegunungan semakin menambah damai suasana. Arsitektur vernakular yang menyatu dengan alam serta dikelilingi rimbun pepohonan menjadi tempat yang asyik untuk mengambil gambar.

Sebagai museum terbaik, tentu saja layanan dan tata kelola di Ullen Sentalu terbilang prima. Setiap wisatawan yang berkunjung ke Museum Ullen Sentalu akan dipandu oleh seorang pemandu berpengalaman yang menjelaskan secara rinci mengenai isi museum.

Koleksi museum dibagi dalam beberapa ruang. Yang pertama adalah Ruang Seni dan Gamelan yang menyimpan seperangkat koleksi gamelan. Selanjutnya Guwo Selo Giri yang menjadi ruang pamer lukisan tokoh-tokoh yang mewakili 4 figur Dinasti Mataram. Kampung Kambang terbagi menjadi 5 ruang pamer yang mempertontonkan koleksi batik, syair, hingga album hidup GRKay. Siti Nurul Kusumawardhani. Yang terakhir adalah Ruang Sasana Sekar Buwana dan Koridor Letja Randa yang merupakan museum outdoor.

Usai mengikuti tur keliling museum, wisatawan bisa menikmati aneka hidangan lezat di Restoran Beukenhof yang memiliki arsitektur gothic. Beberapa hidangan yang direkomendasikan adalah Lobster Thermidor, Breaded Chicken Tender, dan Glazed Lamb Rack. Hidangan yang lezat, tempat yang indah, serta alam yang asri pasti akan menjadikan sesi bersantap menjadi semakin nikmat.
Tiket Masuk Museum Ullen Sentalu

Pengunjung domestik
Dewasa: Rp 30.000, anak-anak (5-16 th): Rp 15.000
Pengunjung mancanegara
Dewasa: Rp 50.000, anak-anak (5-16): Rp 30.000

Bagi wisawatan domestik yang datang berombongan diharapkan untuk melakukan reservasi lebih dulu supaya mendapatkan prioritas dalam tur. Untuk setiap 25 tiket akan mendapatkan 1 tiket masuk. Sedangkan bagi rombongan pelajar akan mendapatkan harga khusus.

Jam Buka
Senin: tutup
Selasa – Jumat: 08.30 – 16.00 WIB
Sabtu – Minggu: 08.30 – 17.00 WIB

Sumber :
https://www.njogja.co.id/museum-dan-monumen/ullen-sentalu-museum-terbaik-di-indonesia/

Kunjungi Website STIPRAM

Rabu, 29 November 2017

Tebing Breksi

Tebing Breksi, Menikmati Wisata Bekas Pertambangan



" ...,Di Tebing Breksi
Sejarah dan puisi kutatah menjadi rindu
Rahasia dan malam bulan purnama dan kokok ayam di pagi bta
Semua kutulis menjadi mantra,..." sebuah penggalan puisi karya HM Nasruddin Anshoriy Ch atau lebih sering dipanggil akrab dengan nama Gus Nas ini menceritakan secara indah tentang keelokan Tebing Breksi.

Tebing Breksi berlokasi di Dusun Groyokan, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya berdekatan dengan lokasi Candi Ijo, hanya kira-kira berjarak satu kilometer saja. Sehingga wisatawan yang bermaksud ke tempat ini, dapat sekaligus mengunjungi Candi Ijo.

Pada awalnya Tebing Breksi merupakan tebing biasa yang kemudian dimanfaatkan bebatuannya untuk ditambang. Setelah beberapa waktu, aktivitas penambangan pun berhenti dan lokasi ini pun ditinggal begitu saja. Karena tempatnya yang unik dan menarik banyak wisatawan yang mampir ke tempat ini hingga akhirnya oleh pemerintah daerah kawasan ini ditata dan dijadikan sebagai kawasan wisata yang di buka pada tanggal 30 mei 2015.

Oleh kerena itu masih tampak ornamen-ornamen pahatan bekas penambangan yang ada membuat
tebing tampak sepertidinding-dinding bebatuan yang rata dan ada juga yang berbentuk seperti kue lapis. Hal itu tentu saja menjadi daya tarik para wisatawan karena daya tariknya yang unik dan artistik. Banyak para penggunjung yang berselfie karena latar pemandangannya yang beda dan tentu saja menghasilkan foto yang luar biasa. Selain itu banyak fotografer amatir dan profesional yang datang ke objek wisata ini untuk hunting foto dan bahkan untuk pre wedding.

Belum lama ini Tebing Breksi juga  menjadi salah satu nominasi tujuan wisata baru terpopuler dalam Anugerah Pesona Indonesia 2017 dan menjadi juara satu.

Untuk biaya tiketnya, untuk masuk ke Tebing Breksi hanya dikenakan biaya parkir saja, yaitu Rp. 2000 untuk sepeda motor dan Rp. 5000 untuk mobil.

Bagaimana? Murah dan Menarik bukan? So, ayo kunjungi Tebing Breksi

Kunjungi Website STIPRAM

Desa Wisata Ketingan


DESA WISATA KETINGAN
Tempat Tinggal Pilihan bagi Ribuan Burung Kuntul di Sleman
Dusun Ketingan, Desa Tirtoadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, Indonesia

    Suara ribuan burung kuntul terdengar ramai ketika memasuki kawasan Desa Wisata Ketingan. Sudah bertahun-tahun burung-burung itu memilih tinggal di pohon-pohon yang tinggi menjulang di sana, berbagi tempat bersama warga sekitar dan hidup berdampingan.
    Tak ada yang menyangka bahwa peresmian gapura dusun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tahun 1997 silam menjadi awal kehidupan baru warga Dusun Ketingan, Desa Tirtoadi, Mlati, Sleman. Pasalnya, beberapa hari setelah itu, fenomena unik terjadi. Ribuan burung kuntul tiba-tiba saja datang dan membuat sarang hampir di semua pohon tinggi di dusun itu. Uniknya lagi, burung-burung ini hanya tinggal di Ketingan, tidak di dusun lain meskipun dusun-dusun yang berdekatan memiliki vegetasi yang sama. Kedatangan burung-burung yang jumlahnya ribuan ini mau tak mau mengubah seluruh sisi kehidupan warga yang mulanya biasa saja menjadi luar biasa.
    Awalnya, kehadiran burung-burung ini dianggap sebagai hama oleh warga. Mereka takut produksi buah melinjo menurun akibat pohonnya dijadikan tempat meletakkan sarang. Mereka juga khawatir kesehatan mereka terganggu akibat kotoran burung yang banyak terdapat di pekarangan dan jalan-jalan dusun. Itulah sebabnya, beberapa warga sempat mencoba mengusir kuntul-kuntul ini. Alih-alih pergi, mereka malah berkembang biak dan jumlahnya bertambah banyak. Sampai akhirnya, warga sadar dan mau berbagi tempat hidup bersama mereka. Tak ada lagi yang mau memburu burung-burung ini dan papan-papan peringatan untuk tidak berburu burung di Ketingan pun dipasang di beberapa sudutnya. Bahkan, ketika anakan kuntul-kuntul ini terjatuh dari sarangnya, warga bersedia merawat hingga sembuh dan siap dilepas kembali ke habitatnya.
    Bagi para peneliti satwa dan pecinta burung, Ketingan merupakan surga. Mengamati tingkah polah kuntul-kuntul yang jumlahnya mencapai 7.000 ekor ini tak pernah membosankan. Bahkan warga sekitar yang telah hidup bertahun-tahun bersama mereka pun masih selalu mengamatinya. Warga hafal betul saat kuntul-kuntul ini mencari makan, membuat sarang baru, musim kawin, musim menetas dan bermigrasi. Benar, pada bulan September kuntul-kuntul ini akan bermigrasi, meninggalkan Ketingan beberapa saat. Suara mereka tidak akan terdengar ramai dan tak ada pula yang pagi-pagi menemani petani mengolah sawah. Mereka hilang sejenak, membiarkan warga kembali ke kehidupan normal seperti sebelum burung-burung ini datang. Barulah pada pertengahan bulan Oktober, kuntul-kuntul ini pulang, kembali membuat sarang dan hidup seperti biasanya.
    Selain mengamati burung, acara rutin Merti Bumi yang selalu diselenggarakan pada bulan September pun ikut menarik perhatian. Pada acara tersebut, berbagai pertunjukan seni dan budaya seperti pagelaran wayang, kirab dan kenduri sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil bumi yang melimpah pun dapat disaksikan. Memutuskan untuk tinggal di sana beberapa hari dan ikut larut dalam euforianya tentu akan menyenangkan. Jika tak sempat datang di bulan September, cobalah live in beberapa hari sebelum masa panen raya dan ikut merayakan wiwitan (syukuran sebelum masa panen padi) atau datang sebelum masa tanam dan mengikuti tradisi angler (selamatan sebelum masa tanam padi). Selain pada acara-acara tersebut, Desa Wisata Ketingan tetap terbuka bagi mereka yang ingin tahu dan belajar banyak tentang burung-burung ini sembari menikmati kesenian tradisional berupa gejog lesung, jathilan hingga pertunjukan pek bung (alat musik tradisional yang ditabuh dan terbuat dari kelenting).

    Ketika berkunjung ke sana, jangan lupa untuk mengenakan topi atau pelindung kepala agar tak terkena kotoran burung. Bagi para pecinta fotografi, sebaiknya bawalah lensa tele untuk mengambil gambar burung karena mereka selalu berada dalam jarak yang cukup jauh. Agar tak kehilangan momen, cobalah datang di pagi atau sore hari ketika burung-burung ini sedang mencari makan di sawah kemudian pulang ke sarang. Makin asyik lagi kalau kita mengunjunginya ketika musim petani membajak sawah. Kuntul-kuntul ini akan jelas terlihat tanpa terhalang tanaman padi. Rasanya, mendapat kesempatan mengunjungi dan melihat fenomena unik ini membuat kita sadar bahwa hidup berbagi dengan makhluk hidup lain itu indah dan menyenangkan.


 Untuk tiket masuk ke desa wisata Ketingan Gratis, namun apabila anda ingin menikmati suasana desa lebih lama, anda bisa menginap dan menewa homestay yang ada disana.
Homestay: Rp. 75.000 / malam (3x makan)

Sumber : https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/nature-and-outdoor/desa-wisata-ketingan/

Kunjungi Website STIPRAM